<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ICJR</title>
	<atom:link href="http://icjr.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://icjr.or.id</link>
	<description>Institute for Criminal Justice Reform</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 19:00:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.1</generator>
		<item>
		<title>RMS Vs. Negara Republik Indonesia</title>
		<link>http://icjr.or.id/rms-vs-negara-republik-indonesia/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/rms-vs-negara-republik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 19:00:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[Survivor]]></category>
		<category><![CDATA[Torture Cases]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kasasi]]></category>
		<category><![CDATA[KUHAP]]></category>
		<category><![CDATA[MA]]></category>
		<category><![CDATA[penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[putusan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1276</guid>
		<description><![CDATA[Dalam perkara ini RMS bersama – sama dua terdakwa lainnya (dalam berkas terpisah) didakwa telah melakukan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian 1 orang dan 1 orang lainnya mengalami luka berat. Benda – benda yang dicuri dalam surat dakwaan adalah uang sebanyak dua juta rupiah, emas seberat 5 gram, uang sebanyak enam juta rupiah, emas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam perkara ini RMS bersama – sama dua terdakwa lainnya (dalam berkas terpisah) didakwa telah melakukan pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian 1 orang dan 1 orang lainnya mengalami luka berat. Benda – benda yang dicuri dalam surat dakwaan adalah uang sebanyak dua juta rupiah, emas seberat 5 gram, uang sebanyak enam juta rupiah, emas seberat 25 gram, dan HP merek Nokia type 6070.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1276"></span>Terhadap perkara tersebut, Terdakwa telah diputus bersalah pada tingkat PN dan PT, namun di tingkat Kasasi MA membebaskan Terdakwa berdasarkan alasan – alasan berikut</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pertimbangan MA, <a href="http://icjrid.files.wordpress.com/2012/05/600-k-pid-2009.pdf" target="_blank">Putusan MA No 600 K/Pid/2009</a></strong></p>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Bahwa judex facti telah salah dalam menerapkan hukum dalam perkara a quo, yang menjadi saksi melihat sendiri isteri Fadli alias Ipad yaitu Rahellia Lianti, itupun dalam keadaan gelap, dan saksi Rahellia tidak dapat melihat dengan jelas, karena para perampok menggunakan master / penutup wajah. Saksi tidak mengenai suara-suara para pelaku ;</li>
<li style="text-align: justify;">Bahwa Ariyanto ditangkap tanggal 27 Februari 2008 dan Rijan (Terdakwa) dan Junaidi tanggal 28 Februari 2008 ;</li>
<li style="text-align: justify;">Bahwa dari fakta terbukti saksi-saksi pelaku tindak pidana dan Terdakwa dipukuli dan ditekan dan disiksa oleh Polisi / Penyidik dan seluruh BAP ditarik kembali oleh Terdakwa/saksi-saksi pelaku tindak pidana (dalam perkara lain) ;</li>
<li style="text-align: justify;">Bahwa handphone yang diduga dicuri adalah menurut pengakuan ayah Ariyanto miliknya, dan ada kuitansi pembeliannya ;</li>
<li style="text-align: justify;">Bahwa dari saksi Junaidi dan Terdakwa tidak mengenal pemilik rumah korban Fadli, malah tidak tahu lokasi tambang klam</li>
<li style="text-align: justify;">Bahwa ketika tiga orang pelaku tindak pidana (yang tiga lainnya tidak ditemukan) dipukul oleh Polisi di hutan disaksikan oleh orangtua Ariyanto dan adiknya Ariyanto ;</li>
<li style="text-align: justify;">Bahwa kesaksian Jentayu dan Jumi, orangtua Ariyanto tidak mengenal Terdakwa dan Junaidi padahal mereka adalah berkawan dan disidangkan bersama-sama menjadi perampok ;</li>
<li style="text-align: justify;">Fakta bahwa Terdakwa tidak mendapatkan bantuan Pengadilan melanggar hukum acara (didakwa 5 tahun lebih)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/rms-vs-negara-republik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Pelapor Khusus PBB untuk Penyiksaan, dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia di Indonesia</title>
		<link>http://icjr.or.id/laporan-pelapor-khusus-pbb-untuk-penyiksaan-dan-perlakuan-atau-hukuman-lain-yang-kejam-tidak-manusiawi-dan-merendahkan-martabat-manusia-di-indonesia/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/laporan-pelapor-khusus-pbb-untuk-penyiksaan-dan-perlakuan-atau-hukuman-lain-yang-kejam-tidak-manusiawi-dan-merendahkan-martabat-manusia-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 16:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[Torture Resources]]></category>
		<category><![CDATA[inhuman or degrading treatment or punishment]]></category>
		<category><![CDATA[Manfred Nowak]]></category>
		<category><![CDATA[Mission to Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Report]]></category>
		<category><![CDATA[The Special Rapporteur on torture and other cruel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Reporter Khusus PBB untuk Penyiksaan, dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia telah mengunjungi Indonesia dari 10 hingga 23 November 2007. Berdasarkan kunjungan tersebut maka telah dihasilkan laporan yang berisi tentang studi atas aspek hukum dan fakta yang terjadi mengenai situasi penyiksaan dan perlakuan kejam di Indoensia. Dalam laporan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Reporter Khusus PBB untuk Penyiksaan, dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia telah mengunjungi Indonesia dari 10 hingga 23 November 2007. Berdasarkan kunjungan tersebut maka telah dihasilkan laporan yang berisi tentang studi atas aspek hukum dan fakta yang terjadi mengenai situasi penyiksaan dan perlakuan kejam di Indoensia.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1279"></span>Dalam laporan ini disimpulkan bahwa penyiksaan di kantor polisi adalah praktek yang rutin terjadi di Jakarta dan kota – kota besar di Jawa termasuk di Yogyakarta. Ia juga mengunjungi lembaga – lembaga pemasyarakatan dan khususnya di Jakarta situasi LP telah pada kondisi overcrowded yang akan menimbulkan masalah kesehatan, keamanan, dan merupakan lahan subur bagi tumbuhnya praktek korupsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan unduh laporannya <a href="http://icjrid.files.wordpress.com/2012/05/g0811490.pdf" target="_blank">disini</a> dan addendum terhadap laporan tersebut <a href="http://icjrid.files.wordpress.com/2012/05/g1011620.pdf" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/laporan-pelapor-khusus-pbb-untuk-penyiksaan-dan-perlakuan-atau-hukuman-lain-yang-kejam-tidak-manusiawi-dan-merendahkan-martabat-manusia-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketentuan Pidana dalam UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Dalam Perkara Penyiksaan</title>
		<link>http://icjr.or.id/ketentuan-pidana-dalam-uu-no-23-tahun-2002-tentang-perlindungan-anak-dalam-perkara-penyiksaan/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/ketentuan-pidana-dalam-uu-no-23-tahun-2002-tentang-perlindungan-anak-dalam-perkara-penyiksaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 16:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laws and Regulation]]></category>
		<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[tersangka]]></category>
		<category><![CDATA[UU Perlindungan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1272</guid>
		<description><![CDATA[UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah memuat tindak pidana yang dapat dikenakan terhadap penegak hukum yang dalam memeriksa perkara anak yang berhadapan dengan hukum melakukan tindak kekerasan atau penyiksaan terhadap anak. Ketentuan tersebut terdapat di dalam Pasal 80 ayat (1), (2), dan (3) sebagaimana tersebut di bawah ini Pasal 80 Setiap orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah memuat tindak pidana yang dapat dikenakan terhadap penegak hukum yang dalam memeriksa perkara anak yang berhadapan dengan hukum melakukan tindak kekerasan atau penyiksaan terhadap anak. Ketentuan tersebut terdapat di dalam Pasal 80 ayat (1), (2), dan (3) sebagaimana tersebut di bawah ini</p>
<p><strong><span id="more-1272"></span>Pasal 80</strong></p>
<ol>
<li style="text-align: justify;">Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 (tujuh puluh dua juta rupiah).</li>
<li style="text-align: justify;">Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).</li>
<li style="text-align: justify;">Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/ketentuan-pidana-dalam-uu-no-23-tahun-2002-tentang-perlindungan-anak-dalam-perkara-penyiksaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketentuan Pidana dalam KUHP untuk Perkara Penyiksaan</title>
		<link>http://icjr.or.id/ketentuan-pidana-dalam-kuhp-untuk-perkara-penyiksaan/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/ketentuan-pidana-dalam-kuhp-untuk-perkara-penyiksaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 16:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laws and Regulation]]></category>
		<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[KUHP]]></category>
		<category><![CDATA[penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[tersangka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1269</guid>
		<description><![CDATA[Ketentuan &#8211; ketentuan dibawah ini adalah ketentuan &#8211; ketentuan dalam KUHP yang biasanya digunakan terhadap penegak hukum yang melakukan penyiksaan terhadap tersangka dalam proses penyidikan. Meski terdapat perdebatan di antara kalangan ahli hukum dan hak asasi manusia, namun dalam prakteknya ketentuan &#8211; ketentuan inilah yang digunakan untuk menjerat para penegak hukum yang melakukan penyiksaan terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ketentuan &#8211; ketentuan dibawah ini adalah ketentuan &#8211; ketentuan dalam KUHP yang biasanya digunakan terhadap penegak hukum yang melakukan penyiksaan terhadap tersangka dalam proses penyidikan. Meski terdapat perdebatan di antara kalangan ahli hukum dan hak asasi manusia, namun dalam prakteknya ketentuan &#8211; ketentuan inilah yang digunakan untuk menjerat para penegak hukum yang melakukan penyiksaan terhadap tersangka</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span id="more-1269"></span>Pasal 351</strong></p>
<ol>
<li>Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.</li>
<li>Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.</li>
<li>Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.</li>
<li>Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan.</li>
<li>Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 353</strong></p>
<ol>
<li>Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.</li>
<li>Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.</li>
<li>Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 354</strong></p>
<ol>
<li>Barang siapa sengaja melukai berat orang lain, diancam karena melakukan penganiayaan berat dengan pidana penjara paling lama delapan tahun.</li>
<li>Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian. yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 355</strong></p>
<ol>
<li>Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.</li>
<li>Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 356 ayat (3)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pidana yang ditentukan dalam pasal 351, 353, 354 dan 355 dapat ditambah dengan sepertiga: jika kejahatan itu dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa atau kesehatan untuk dimakan atau diminum.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 421</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan memaksa seseorang untuk melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pasal 422</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana menggunakan sarana paksaan, baik untuk memeras pengakuan, maupun untuk mendapatkan keterangan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/ketentuan-pidana-dalam-kuhp-untuk-perkara-penyiksaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Penyiksaan: Manual untuk Hakim dan Jaksa Penuntut</title>
		<link>http://icjr.or.id/melawan-penyiksaan-manual-untuk-hakim-dan-jaksa-penuntut/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/melawan-penyiksaan-manual-untuk-hakim-dan-jaksa-penuntut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 15:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[Torture Resources]]></category>
		<category><![CDATA[elsam]]></category>
		<category><![CDATA[hakim]]></category>
		<category><![CDATA[jaksa penuntut umum]]></category>
		<category><![CDATA[manual]]></category>
		<category><![CDATA[penyiksaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1292</guid>
		<description><![CDATA[Manual ini memaparkan kewajiban dan tanggung jawab para hakim dan jaksa penuntut untuk mencegah dan menyelidiki tindakan penyiksaan, dan bentukbentuk perlakuan sewenang-wenang lainnya, untuk memastikan bahwa para pelaku tindakan semacam itu diadili dan untuk menyediakan pemulihan bagi para korbannya. Manual ini juga memberikan nasihat praktis, yang disarikan dari praktik terbaik, tentang bagaimana penyiksaan dapat dilawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Manual ini memaparkan kewajiban dan tanggung jawab para hakim dan jaksa penuntut untuk mencegah dan menyelidiki tindakan penyiksaan, dan bentukbentuk perlakuan sewenang-wenang lainnya, untuk memastikan bahwa para pelaku tindakan semacam itu diadili dan untuk menyediakan pemulihan bagi para korbannya. Manual ini juga memberikan nasihat praktis, yang disarikan dari praktik terbaik, tentang bagaimana penyiksaan dapat dilawan di tingkat prosedural. Kendatipun ditujukan terutama sekali untuk para hakim dan jaksa penuntut, manual ini juga dapat digunakan sebagai acuan bagi para pembela dan pihak lain yang bekerja pada isu pencegahan dan penyelidikan tindakan penyiksaan. Suatu profesi hukum yang berbekal kuat dengan ilmu dan pengetahuan memainkan peran yang vital untuk menghapus penyiksaan dan manual ini juga diarahkan untuk membantu para anggotanya untuk memenuhi fungsi profesional tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Manual ini sebaiknya dipandang sebagai pelengkap bagi <em>The Torture Reporting Handbook</em>, yang dikeluarkan oleh University of Essex. Sebuah buku panduan<em> </em>kedua dalam seri ini telah dikeluarkan oleh Human Rights Centre, <em>Reporting Killings as Human Rights Violations.</em> Manual ini ditulis oleh Conor Foley dan diterjemahkan oleh <a href="http://elsam.or.id/">ELSAM</a> serta diterbitkan versi bahasa Indonesianya oleh <a href="http://elsam.or.id/">ELSAM</a> pada Desember 2009</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk manualnya silahkan diunduh <a href="http://icjrid.files.wordpress.com/2012/05/combatingtorturejudges_bahasa.pdf" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/melawan-penyiksaan-manual-untuk-hakim-dan-jaksa-penuntut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The prohibition of torture: A guide to the implementation of Article 3 of the European Convention on Human Rights</title>
		<link>http://icjr.or.id/the-prohibition-of-torture-a-guide-to-the-implementation-of-article-3-of-the-european-convention-on-human-rights/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/the-prohibition-of-torture-a-guide-to-the-implementation-of-article-3-of-the-european-convention-on-human-rights/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 13:19:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[Torture Resources]]></category>
		<category><![CDATA[buku pegangan]]></category>
		<category><![CDATA[hak asasi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[konvensi eropa tentang hak asasi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[Larangan penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[pasal 3]]></category>
		<category><![CDATA[penyiksaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1289</guid>
		<description><![CDATA[Lima belas kata dalam Pasal 3 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia telah menjadikan Pasal 3 Konvensi ini merupakan salah satu ketentuan tersingkat dalam konvensi tersebut. Buku ini merupakan Seri Buku Pegangan tentang Hak Asasi Manusia yang ditulis oleh Aisling Reidy. Buku ini berisi tentang Pengenalan terhadap Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, Pengenalan tentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Lima belas kata dalam Pasal 3 Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia telah menjadikan Pasal 3 Konvensi ini merupakan salah satu ketentuan tersingkat dalam konvensi tersebut. Buku ini merupakan Seri Buku Pegangan tentang Hak Asasi Manusia yang ditulis oleh Aisling Reidy. Buku ini berisi tentang Pengenalan terhadap Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, Pengenalan tentang Pasal 3 Konvensi, Penerapan Pasal 3 dalam praktek, Kewajiban yang timbul berdasarkan Pasal 3, Merespon tuduhan penyiksaan, dan Standar Internasional yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk membacanya silahkan unduh <a href="http://icjrid.files.wordpress.com/2012/05/dg2enhrhand062003.pdf" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/the-prohibition-of-torture-a-guide-to-the-implementation-of-article-3-of-the-european-convention-on-human-rights/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia</title>
		<link>http://icjr.or.id/peraturan-kapolri-no-8-tahun-2009-tentang-implementasi-prinsip-dan-standar-hak-asasi-manusia-dalam-penyelenggaraan-tugas-kepolisian-negara-republik-indonesia/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/peraturan-kapolri-no-8-tahun-2009-tentang-implementasi-prinsip-dan-standar-hak-asasi-manusia-dalam-penyelenggaraan-tugas-kepolisian-negara-republik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 11:05:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laws and Regulation]]></category>
		<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[hak asasi manusia]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>
		<category><![CDATA[kapolri]]></category>
		<category><![CDATA[Pedoman]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[polisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1285</guid>
		<description><![CDATA[Dalam peraturan ini ditegaskan bahwa Polri wajib untuk menghormati, melindungi, dan menegakkan hak asasi manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Untuk tujuan tersebut maka Polri membutuhkan pedoman tentang implementasi prinsip dan standar hak asasi manusia dalam pelaksanaan fungsi dan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia Silahkan unduh peraturan tersebut disini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam peraturan ini ditegaskan bahwa Polri wajib untuk menghormati, melindungi, dan menegakkan hak asasi manusia dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Untuk tujuan tersebut maka Polri membutuhkan pedoman tentang implementasi prinsip dan standar hak asasi manusia dalam pelaksanaan fungsi dan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia</p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan unduh peraturan tersebut <a href="http://icjrid.files.wordpress.com/2012/05/perkap-no-8-tahun-2009.pdf" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/peraturan-kapolri-no-8-tahun-2009-tentang-implementasi-prinsip-dan-standar-hak-asasi-manusia-dalam-penyelenggaraan-tugas-kepolisian-negara-republik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peraturan Kapolri No 4 Tahun 2005 tentang Pengurusan Tahanan Pada Rumah Tahanan Kepolisian Negara Republik Indonesia</title>
		<link>http://icjr.or.id/peraturan-kapolri-no-4-tahun-2005-tentang-pengurusan-tahanan-pada-rumah-tahanan-kepolisian-negara-republik-indonesia/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/peraturan-kapolri-no-4-tahun-2005-tentang-pengurusan-tahanan-pada-rumah-tahanan-kepolisian-negara-republik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 11:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laws and Regulation]]></category>
		<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[kapolri]]></category>
		<category><![CDATA[pengurusan tahanan]]></category>
		<category><![CDATA[peraturan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tahanan kepolisian]]></category>
		<category><![CDATA[soetanto]]></category>
		<category><![CDATA[tahanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1282</guid>
		<description><![CDATA[Dalam peraturan ini diatur tentang pelayanan tahanan dan sistem pembinaan tahanan di Rumah Tahanan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Peraturan ini dikeluarkan pada saat Kapolri masih dijabat oleh Drs. Soetanto. Silahkan unduh peraturan tersebut disini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dalam peraturan ini diatur tentang pelayanan tahanan dan sistem pembinaan tahanan di Rumah Tahanan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Peraturan ini dikeluarkan pada saat Kapolri masih dijabat oleh Drs. Soetanto.</p>
<p style="text-align: justify;">Silahkan unduh peraturan tersebut <a href="http://icjrid.files.wordpress.com/2012/05/perkap-no-4-th-2005-pengurusan-tahanan-pada-rumah-tahanan-polri.pdf" target="_blank">disini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/peraturan-kapolri-no-4-tahun-2005-tentang-pengurusan-tahanan-pada-rumah-tahanan-kepolisian-negara-republik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>General Comment No. 20: Replaces general comment 7concerning prohibition of torture and cruel treatment or punishment (Art. 7) : .03/10/1992.</title>
		<link>http://icjr.or.id/general-comment-no-20-replaces-general-comment-7concerning-prohibition-of-torture-and-cruel-treatment-or-punishment-art-7-03101992/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/general-comment-no-20-replaces-general-comment-7concerning-prohibition-of-torture-and-cruel-treatment-or-punishment-art-7-03101992/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 05:47:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laws and Regulation]]></category>
		<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[General Comment]]></category>
		<category><![CDATA[ICCPR]]></category>
		<category><![CDATA[Komentar Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik]]></category>
		<category><![CDATA[penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Torture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1265</guid>
		<description><![CDATA[General Comment No. 20: Replaces general comment 7concerning prohibition of torture and cruel treatment or punishment (Art. 7) : . 03/10/1992. CCPR General Comment No. 20. (General Comments) Convention Abbreviation: CCPR GENERAL COMMENT 20 Replaces general comment 7 concerning prohibition of torture and cruel treatment or punishment (Article 7) (Forty-fourth session, 1992) This general comment [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><em>General Comment No. 20: Replaces general comment 7concerning prohibition of torture and cruel treatment or punishment (Art. 7) : . 03/10/1992.</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>CCPR General Comment No.   20. (General Comments</em></strong><strong>)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Convention Abbreviation:</strong> CCPR</p>
<p style="text-align: center;">GENERAL COMMENT 20</p>
<p style="text-align: center;"><span style="text-decoration: underline;">Replaces general comment 7 concerning prohibition<br />
of torture and cruel treatment or punishment</span></p>
<p style="text-align: center;">(<span style="text-decoration: underline;">Article 7</span>)</p>
<p style="text-align: center;">(<span style="text-decoration: underline;">Forty-fourth session, 1992</span>)</p>
<ol>
<li style="text-align: justify;"><span id="more-1265"></span>This general comment replaces general comment 7 (the sixteenth session, 1982) reflecting and further developing it.</li>
<li style="text-align: justify;">The aim of the provisions of article 7 of the International Covenant on Civil and Political Rights is to protect both the dignity and the physical and mental integrity of the individual. It is the duty of the State party to afford everyone protection through legislative and other measures as may be necessary against the acts prohibited by article 7, whether inflicted by people acting in their official capacity, outside their official capacity or in a private capacity. The prohibition in article 7 is complemented by the positive requirements of article 10, paragraph 1, of the Covenant, which stipulates that &#8220;All persons deprived of their liberty shall be treated with humanity and with respect for the inherent dignity of the human person&#8221;.</li>
<li style="text-align: justify;">The text of article 7 allows of no limitation. The Committee also reaffirms that, even in situations of public emergency such as those referred to in article 4 of the Covenant, no derogation from the provision of article 7 is allowed and its provisions must remain in force. The Committee likewise observes that no justification or extenuating circumstances may be invoked to excuse a violation of article 7 for any reasons, including those based on an order from a superior officer or public authority.</li>
<li style="text-align: justify;">The Covenant does not contain any definition of the concepts covered by article 7, nor does the Committee consider it necessary to draw up a list of prohibited acts or to establish sharp distinctions between the different kinds of punishment or treatment; the distinctions depend on the nature, purpose and severity of the treatment applied.</li>
<li style="text-align: justify;">The prohibition in article 7 relates not only to acts that cause physical pain but also to acts that cause mental suffering to the victim. In the Committee&#8217;s view, moreover, the prohibition must extend to corporal punishment, including excessive chastisement ordered as punishment for a crime or as an educative or disciplinary measure. It is appropriate to emphasize in this regard that article 7 protects, in particular, children, pupils and patients in teaching and medical institutions.</li>
<li style="text-align: justify;">The Committee notes that prolonged solitary confinement of the detained or imprisoned person may amount to acts prohibited by article 7. As the Committee has stated in its general comment No. 6 (16), article 6 of the Covenant refers generally to abolition of the death penalty in terms that strongly suggest that abolition is desirable. Moreover, when the death penalty is applied by a State party for the most serious crimes, it must not only be strictly limited in accordance with article 6 but it must be carried out in such a way as to cause the least possible physical and mental suffering.</li>
<li style="text-align: justify;">Article 7 expressly prohibits medical or scientific experimentation without the free consent of the person concerned. The Committee notes that the reports of States parties generally contain little information on this point. More attention should be given to the need and means to ensure observance of this provision. The Committee also observes that special protection in regard to such experiments is necessary in the case of persons not capable of giving valid consent, and in particular those under any form of detention or imprisonment. Such persons should not be subjected to any medical or scientific experimentation that may be detrimental to their health.</li>
<li style="text-align: justify;">The Committee notes that it is not sufficient for the implementation of article 7 to prohibit such treatment or punishment or to make it a crime. States parties should inform the Committee of the legislative, administrative, judicial and other measures they take to prevent and punish acts of torture and cruel, inhuman and degrading treatment in any territory under their jurisdiction.</li>
<li style="text-align: justify;">In the view of the Committee, States parties must not expose individuals to the danger of torture or cruel, inhuman or degrading treatment or punishment upon return to another country by way of their extradition, expulsion or refoulement. States parties should indicate in their reports what measures they have adopted to that end.</li>
<li style="text-align: justify;">The Committee should be informed how States parties disseminate, to the population at large, relevant information concerning the ban on torture and the treatment prohibited by article 7. Enforcement personnel, medical personnel, police officers and any other persons involved in the custody or treatment of any individual subjected to any form of arrest, detention or imprisonment must receive appropriate instruction and training. States parties should inform the Committee of the instruction and training given and the way in which the prohibition of article 7 forms an integral part of the operational rules and ethical standards to be followed by such persons.</li>
<li style="text-align: justify;">In addition to describing steps to provide the general protection against acts prohibited under article 7 to which anyone is entitled, the State party should provide detailed information on safeguards for the special protection of particularly vulnerable persons. It should be noted that keeping under systematic review interrogation rules, instructions, methods and practices as well as arrangements for the custody and treatment of persons subjected to any form of arrest, detention or imprisonment is an effective means of preventing cases of torture and ill-treatment. To guarantee the effective protection of detained persons, provisions should be made for detainees to be held in places officially recognized as places of detention and for their names and places of detention, as well as for the names of persons responsible for their detention, to be kept in registers readily available and accessible to those concerned, including relatives and friends. To the same effect, the time and place of all interrogations should be recorded, together with the names of all those present and this information should also be available for purposes of judicial or administrative proceedings. Provisions should also be made against incommunicado detention. In that connection, States parties should ensure that any places of detention be free from any equipment liable to be used for inflicting torture or ill-treatment. The protection of the detainee also requires that prompt and regular access be given to doctors and lawyers and, under appropriate supervision when the investigation so requires, to family members.</li>
<li style="text-align: justify;">It is important for the discouragement of violations under article 7 that the law must prohibit the use of admissibility in judicial proceedings of statements or confessions obtained through torture or other prohibited treatment.</li>
<li style="text-align: justify;">States parties should indicate when presenting their reports the provisions of their criminal law which penalize torture and cruel, inhuman and degrading treatment or punishment, specifying the penalties applicable to such acts, whether committed by public officials or other persons acting on behalf of the State, or by private persons. Those who violate article 7, whether by encouraging, ordering, tolerating or perpetrating prohibited acts, must be held responsible. Consequently, those who have refused to obey orders must not be punished or subjected to any adverse treatment.</li>
<li style="text-align: justify;">Article 7 should be read in conjunction with article 2, paragraph 3, of the Covenant. In their reports, States parties should indicate how their legal system effectively guarantees the immediate termination of all the acts prohibited by article 7 as well as appropriate redress. The right to lodge complaints against maltreatment prohibited by article 7 must be recognized in the domestic law. Complaints must be investigated promptly and impartially by competent authorities so as to make the remedy effective. The reports of States parties should provide specific information on the remedies available to victims of maltreatment and the procedure that complainants must follow, and statistics on the number of complaints and how they have been dealt with.</li>
<li style="text-align: justify;">The Committee has noted that some States have granted amnesty in respect of acts of torture. Amnesties are generally incompatible with the duty of States to investigate such acts; to guarantee freedom from such acts within their jurisdiction; and to ensure that they do not occur in the future. States may not deprive individuals of the right to an effective remedy, including compensation and such full rehabilitation as may be possible.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/general-comment-no-20-replaces-general-comment-7concerning-prohibition-of-torture-and-cruel-treatment-or-punishment-art-7-03101992/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik</title>
		<link>http://icjr.or.id/mengenal-kovenan-internasional-hak-sipil-dan-politik/</link>
		<comments>http://icjr.or.id/mengenal-kovenan-internasional-hak-sipil-dan-politik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 15:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adminicjr</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laws and Regulation]]></category>
		<category><![CDATA[Penyiksaan]]></category>
		<category><![CDATA[Special Project]]></category>
		<category><![CDATA[ICCPR]]></category>
		<category><![CDATA[KIHSP]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://icjr.or.id/?p=1251</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 10 Desember 1948 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB) mengeluarkan Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia &#8211; DUHAM). DUHAM memuat pokok-pokok hak asasi manusia dan kebebasan dasar, termasuk cita-cita manusia yang bebas untuk menikmati kebebasan sipil dan politik. Hal ini dapat dicapai salah satu dengan diciptakannya kondisi dimana setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 10 Desember 1948 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB) mengeluarkan <em><a href="http://www.un.org/en/documents/udhr/" target="_blank">Universal Declaration of Human Rights</a></em> (<a href="http://www.kontras.org/baru/Deklarasi%20Universal%20HAM.pdf" target="_blank">Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia</a> &#8211; DUHAM). DUHAM memuat pokok-pokok hak asasi manusia dan kebebasan dasar, termasuk cita-cita manusia yang bebas untuk menikmati kebebasan sipil dan politik. Hal ini dapat dicapai salah satu dengan diciptakannya kondisi dimana setiap orang dapat menikmati hak-hak sipil dan politik yang diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan internasional.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1251"></span>Setelah melalui perdebatan panjang, dalam sidangnya tahun 1951, Majelis Umum PBB meminta kepada Komisi HAM PBB untuk merancang Kovenan tentang hak sipil dan politik memuat sebanyak mungkin ketentuan Pasal yang akan menetapkan bahwa semua rakyat mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Komisi HAM PBB tersebut berhasil menyelesaikan rancangan Kovenan sesuai dengan keputusan Majelis Umum PBB pada 1951, dan setelah dilakukan pembahasan Pasal demi Pasal, pada akhirnya Majelis Umum PBB melalui Resolusi No.2200 A (XXI) mengesahkan <em><a href="http://www2.ohchr.org/english/law/ccpr.htm">International Covenant on Civil and Political Rights</a> </em>(<a href="http://www.kontras.org/baru/Kovenan%20Sipol.pdf">Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik</a>), dan <em><a href="http://www1.umn.edu/humanrts/instree/b4ccprp1.htm">Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights</a></em> (<a href="http://www.kontras.org/baru/Op%20Proctocol%20I%20ICCPR.pdf">Opsional Protokol Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik</a> secara bersama-sama pada 16 Desember 1966 dan berlaku pada 23 Maret 1976.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>International Covenant on Civil and Political Rights</em> atau biasa disingkat dengan ICCPR bertujuan untuk mengukuhkan pokok-pokok HAM di bidang sipil dan politik yang tercantum dalam DUHAM sehingga menjadi ketentuan-ketentuan yang mengikat secara hukum dan penjabarannya mencakup pokok-pokok lain yang terkait. Konvenan tersebut terdiri dari pembukaan dan Pasal-Pasal yang mencakup 6 BAB dan 53 Pasal.</p>
<p style="text-align: justify;">Negara Indonesia sendiri telah meratifikasi ICCPR pada 28 Oktober 2005 melalui <a href="http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2009/07/UU-No-12-Thn-2005-ttg-Ratifikasi-ICCPR.pdf">Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan <em>International Covenant On Civil And Political Rights </em>(Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik)</a> yang disertai dengan Deklarasi terhadap Pasal 1 tentang Pengesahan Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pengertian Hak Sipil dan Politik</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kovenan hak sipil dan politik tidak memberikan pengertian secara definitif tentang hak sipil dan politik. Namun menurut Ifdhal Kasim dalam bukunya yang berjudul hak sipil dan politik, cetakan pertama tahun 2001, beliau menyimpulkan bahwa hak-hak sipil dan politik adalah hak yang bersumber dari martabat dan melekat pada setiap manusia yang dijamin dan dihormati keberadaannya oleh negara agar manusia bebas menikmati hak-hak dan kebebasannya dalam bidang sipil dan politik yang pemenuhannya menjadi tanggung jawab negara</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hak-Hak Sipil Dan Politik Meliputi</strong></p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Hak hidup</li>
<li>Hak bebas dari penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi</li>
<li>Hak bebas dari perbudakan dan kerja paksa</li>
<li>Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi</li>
<li>Hak atas kebebasan bergerak dan berpindah</li>
<li>Hak atas pengakuan dan perlakuan yang sama dihadapan hukum</li>
<li>Hak untuk bebas berfikir, berkeyakinan dan beragama</li>
<li>Hak untuk bebas berpendapat dan berekspresi</li>
<li>Hak untuk berkumpul dan berserikat</li>
<li>Hak untuk turut serta dalam pemerintahan</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perbedaan Hak Sipil Dan Politik</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hak sipil adalah hak kebebasan fundamental yang diperoleh sebagai hakikat dari keberadaan seorang manusia</p>
<p style="text-align: justify;">Hak politik ialah hak dasar dan bersifat mutlak yang melekat di dalam setiap warga Negara yang harus dijunjung tinggi dan di hormati oleh Negara dalam keadaan apapun</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.kontras.org/baru/Op%20Proctocol%20I%20ICCPR.pdf">Opsional Protokol I</a></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Protokol Opsional I terdiri dari Pembukaan dan 14 (empat belas) Pasal. Namun karena sifatnya opsional maka Negara pihak bebas untuk menjadi pihak atau tidak menjadi pihak dalam protokol, untuk Negara Indonesia sendiri tidak menjadi Pihak dalam Protokol ini. Isi dalam Protokol ini lebih menjelaskan tentang kewenangan dan bentuk mekanisme pengawasan atas penerapan ICCPR di Negara Negara Pihak serta prosedur pengaduan korban pelanggaran Hak Asasi Manusia kepada <em><a href="http://www2.ohchr.org/english/bodies/hrc/">Human Rights Committee</a></em> (Komite Hak Asasi Manusia) yang berjumlah 18 orang dari Negara Pihak Kovenan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.kontras.org/baru/Second%20Optional%20Protocol%20ICCPR.pdf">Opsional Protokol II</a></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Opsional Protokol ini dibuat pada 15 Desember 1989 yang diadopsi Majelis Umum PBB melalui resolusi 44/128 dengan tujuan untuk penghapusan hukuman mati di bawah juridiksi hukum suatu Negara Pihak. Dalam Protokol ini dijelaskan bahwa Negara Negara Pihak diwajibkan untuk mengambil semua upaya yang diperlukan untuk menghapus hukuman mati dibawah yuridiksinya. Karena hukuman mati dinilai bertentangan dengan norma-norma yang terkandum dalam DUHAM dan ICCPR serta menghambat pemajuan pemenuhan hak hidup.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://icjr.or.id/mengenal-kovenan-internasional-hak-sipil-dan-politik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

